“Meski ekonomi Kaltim tumbuh melambat, namun tetap bersyukur karena masih tetap tumbuh positif di tengah ketidakpastian global akibat pandemi COVID-19 ini,” ujar Kepala Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Kaltim Tutuk SH Cahyono di Samarinda, Selasa, saat  video conference dengan belasan wartawan lokal dan nasional.

Perlambatan perekonomian Kaltim disebabkan tekanan dari seluruh komponennya baik dari sisi konsumsi, investasi, pengeluaran pemerintah daerah maupun aktivitas ekspor. Muara dari tekanan itu semua adalah akibat COVID-19.

Ia melanjutkan, berdasarkan lapangan usaha dan sisi permintaan, perlambatan ekonomi bersumber oleh penurunan kinerja pertambangan, termasuk terhambatnya realisasi investasi seiring munculnya pandemi COVID-19.

Produksi batu bara Kaltim tercatat mengalami kontraksi hingga minus 6,17 persen (yoy), setelah pada triwulan sebelumnya tumbuh positif yang bersumber dari kinerja izin usaha pertambangan (IUP) yang mengalami kontraksi.

Selain itu, lanjutnya, realisasi investasi Kaltim pada triwulan1-2020 juga mengalami penurunan pada hampir semua jenis investasi, seperti Penanaman Modal Asing (PMA) pada triwulan 1-2020 tercatat Rp0,97 triliun, ketimbang triwulan 1-2019 yang mencapai Rp2,07 triliun.

Sementara itu, realisasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) triwulan 1-2020 tercatat senilai Rp3,7 triliun, lebih rendah ketimbang triwulan 1-201 9 yang mencapai RP7,16 triliun.

“Ini memaksa beberapa rencana investasi tertunda, terutama pembelian mesin produksi dari Tiongkok dan Taiwan, menyusul merebaknya COVID-19,” tutur Tutuk.

Menurutnya, ekonomi Kaltim triwulan 1-2020 yang tumbuh positif ini ditopang oleh kinerja ekspor serta kinerja lapangan usaha industri pengolahan.

Kinerja ekspor Kaltim tercatat tumbuh 2,86 persen, lebih tinggi ketimbang triwulan sebelumnya 1,55 persen, yakni bersumber dari peningkatan ekspor pupuk yang tercatat tumbuh signifikan mencapai 404,71 persen.

“Selain itu, kinerja industri pengolahan juga masih tumbuh 3,23 persen (yoy) pada triwulan 1-2020, bersumber dari peningkatan produksi di kilang minyak Balikpapan serta aktivitas produksi CPO yang mengalami peningkatan,” ujar Tututuk.(Ant)